Diculik untuk Jadi Mantu Kanjeng Ratu Kidul

Pengalaman ini mirip dengan proses penculikan oleh alien, khususnya di bagian ketika yang bersangkutan harus melakukan hubungan seksual di sebuah meja (altar) mengkilap, disaksikan oleh banyak entitas lain di sekitarnya. Banyak kasus alien abduction di luar negeri yang mengalami peristiwa seperti ini meski latar belakang budayanya berbeda (misalnya kasus Antonio Villas Boas)

Sumber: Samarinda Pos Online, Minggu, 25 Desember 2005


"LAUT biru, langit juga biru. Sungguh menyejukkan hati," kata Iqbal (bukan nama sebenarnya) dalam hati. Dia merebahkan tubuhnya di pasir dan matanya melihat ke sana ke mari mencari Fatimah (nama samaran) kekasihnya. Namun yang dicari masih bermain ombak dengan kedua pasangan lain. Mereka sangat riang dan kelihatan gembira sambil saling ciprat-cipratan air sampai pakaian mereka basah. Maunya Iqbal, Fatimah menemaninya duduk-duduk atau tiduran di pasir tepi pantai.

Karena Iqbal merasa kecewa dan agak mangkel, dia lalu menelungkupkan badan bertiarap sambil memejamkan mata merenungi pasir gelap di bawah tubuhnya. Pantai Widara Payung di Purwokerto Jawa Tengah, semakin sore semakin sepi pengunjung, apalagi matahari sudah hampir tenggelam di cakrawala barat. Sedangkan kedua pasangan remaja teman Iqbal dan Fatimah belum merasa puas bermain air laut. Masih saja berkejar-kejaran. Dan Iqbal sendiri masih tertidur pulas di pasir hangat.

Lamat-lamat terdengar adzan Maghrib dari kampung pesisir. Iqbal menggeliat dari tidurnya, tetapi masih malas untuk bangun. Tiba-tiba ia terperanjat mendengar suara hiruk pikuk dan hingar bingar di sekelilingnya. Dia mencoba melihat dengan membuka sedikit matanya situasi di sekelilingnya. Namun kawannya sudah tidak kelihatan lagi. Entah pada ke mana. Yang lebih mengherankan lagi, Fatimah juga tidak membangunkannya.

Pemandangan istimewa yang dia lihat saat itu jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pawai dan arak-arakan prajurit dengan pakaian zaman raja-raja tempo dulu berbaris rapi tertib dan memanjang. Suasanya meriah dan ramai sekali. Iqbal sendiri ingin bangun, tetapi badannya tidak bisa bergerak. Seakan-akan terkunci, semua persendiannya kaku. Tubuhnya lemas tak berdaya. Dan arak-arakan itu berjalan mendekatinya.

Perlahan-lahan beberapa orang pemimpin prajurit berlutut di sebelah tubuh Iqbal. "Pangeran di tunggu oleh Kanjeng Ratu dan Putri. Kenapa pangeran masih malas-malasan tidur. Mari kita berangkat. Semua yang ada di sini menjemput dan mengiringi Pangeran menuju ke istana," kata beberapa pemimpin prajurit itu.

Iqbal kebingungan, rasanya ingin bergerak dan bertanya tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Lalu ingin mengumpat, tapi maksud itu diurungkannya. Saat itu prajurit bawahan menyodorkannya pakaian kepangeranan. Mereka mengenakannya dari celana, baju, keris, perhiasan sampai mahkota, persis seperti seorang Putera Mahkota. Atau tepatnya seperti dandanan pengantin laki-laki yang siap dipersandingkan dengan mempelawai wanita. Iqbal bertambah heran dan mendadak tubuhnya gemetar ketakutan ketika dia melihat dari dalam laut muncul kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dengan sais seorang wanita cantik. "Silakan naik Pangeran, kereta penjemput sudah datang," kata pemimpin prajurit itu.

Kedua pengawal prajurit memegang lengan Iqbal, lalu membimbing berjalan ke arah kereta itu. "Pangeran diharap memejamkan mata, supaya perjalanan cepat sampai tujuan," kata pemimpin prajurit itu. Iqbal merasakan masuk ke dalam laut, tetapi tetap masih bisa bernapas. Acara ritual perkawinan Pangeran Iqbal dan Puteri Fatimah (puteri itu mirip sekali pacar Iqbal, bagai pinang dibelah dua) berlangsung dua hari dua malam. Yang terasa aneh, Iqbal tidak merasa mengantuk, tidak lapar, tidak haus dan tidak jua kepengin bicara apa-apa. Yang dia ketahui bahwa pada hari ketiga ia harus melakukan kewajiban sebagai seorang suami untuk menggauli istri di sebuah altar mengkilap, disaksikan kerabat kerajaan dan di hadapan ibunda ratu.

Hal inilah yang membuat Iqbal tidak bisa melakukan, karena malu ditonton orang banyak. Di samping itu ia tidak bisa menerima perlakuan yang tak bermoral itu dan tidak memenuhi etika. Iqbal menghela napas, lalu memejamkan mata sambil menyebut asma Allah disertai memohon ampunannya. Dan tak disangka tak diduga kerajaan itu bergoncang bagai kena gempa tektonik yang berskala tinggi, Iqbal merasa pusing berputar, lalu tak sadarkan diri.

Iqbal pulih kesadarannya setelah dirawat di Rumah Sakit Margono Sukarjo di Purwokerto sewaktu di tunggui oleh kekasihnya Fatimah yang cantik itu. Fatimah meneteskan air mata haru, karena bertemu kembali dengan Iqbal setelah hilang selama 21 hari. (mol)