Dibawa terbang makhluk misterius menembus dinding/atap rumah

Sumber: Blog Panji Semirang

Aku baru saja merebahkan tubuh di pembaringan ketika tiba-tiba muncul sesosok tubuh tinggi besar. Kemunculannya diawali penampakan gumpalan asap putih di depan lemari pakaian yang berada di ujung tempat tidurku. Dalam sekejap gumpalan asap itu membentuk sesosok tubuh yang berdiri menghadap ke arahku.

Aku tidak tahu apakah sosok itu lelaki atau perempuan. Yang jelas dia berpakaian seperti orang Arab. Mengenakan jubah panjang sampai ke lantai. Kepalanya ditutupi selembar kain sampai ke bahu. Kain penutup kepala dan jubahnya serba putih.

Sosok itu bertubuh besar dan tinggi. Lebar tubuhnya hampir menyamai lebar lemari pakaian di kamarku. Dan, kepalanya hampir menyentuh loteng. Di sela-sela keterkejutan yang mencekam aku masih sempat membaca ayat kursi, yakni satu ayat yang konon ampuh untuk mengusir jin. Bahkan, katanya, jin ifrit yang terkenal paling hebat di antara Bangsa Jin, bisa terbakar bila dibacakan ayat kursi dalam jumlah tertentu.

Anehnya, ayat kursi yang kulantunkan dengan suara bergetar karena takut, itu tidak berpengaruh terhadap sosok misterius yang hadir tiba-tiba dalam kamar tidurku. Bahkan, aku mendengar suara merdu dari mulut makhluk itu, ikut melantunkan ayat kursi. Bacaannya terdengar indah dengan tajwid yang baik. Makhluk itu seakan ingin mengajariku cara membaca ayat suci Al Quran yang baik. Aku panik. Ingin berteriak, tapi suaraku sersekat di tenggorokan.

Lalu, dia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Bersamaan dengan itu dia membungkukkan sedikit kepalanya. Dia memberi hormat seraya mengucapkan "Assalamualikum". Suara itu seperti menggaung di rongga kepalaku, tapi merdu.

Kemudian...Oh, dia mendekatiku. Tangannya menjulur ke tubuhku. Dan, laksana seorang ibu menggendong bayi, dia membopong tubuhku. Aku dibawanya terbang!

Peristiwa itu terjadi sebelas tahun yang lalu. Tanggalnya dan hari aku lupa, tepatnya bulan Juli tahun 1993. Ketika itu aku sedang hamil anak ketiga. Usia kehamilanku saat itu sudah tujuh bulan.

Entah mengapa peristiwa aneh itu menimpa diriku. Tidak ada firasat atau tanda-tanda tertentu yang dapat kujadikan isyarat. Semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba. Dan, tidak masuk akal. Tapi, sangat nyata kurasakan.

Sebut saja namaku Ida. Suamiku seorang pegawai swasta yang berkantor di Jl. A. Yani Bandar Lampung. Sebut saja namanya Amad. Sebagai seorang karyawan yang menempati jabatan setingkat kepala seksi, suamiku tergolong sibuk. Jarang punya waktu untuk bercengkerama dengan putri kedua kami, yang pada waktu itu berusia setahun (anak pertama meninggal ketika baru lahir). Berangkat kerja pagi, pulang sore, tapi lebih sering pulang larut malam.

Kami sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana di Perumahan Beringinraya, Kemiling, Bandar Lampung. Pada waktu itu komplek perumahan kami baru sedikit penghuninya. Baru ada dua blok. Selebihnya masih berupa semak belukar dan padang alang-alang. Sebagai catatan, perumahan Beringinraya ini dulunya adalah perkebunan karet peninggalan kolonial. Konon banyak setan gentayangan. Ih...Seram!

Untuk menjaga keamanan komplek perumahan, warga sepakat membentuk kelompok ronda yang bertugas secara bergiliran. Setiap malam ada dua kelompok ronda yang bertugas. Kelompok pertama mulai bakda Isya' hingga pukul 00.00. Kelompok kedua meneruskan sampai azan subuh. Suamiku juga ikut dalam salah satu kelompok ronda itu. Karena kesibukan pekerjaannya, suamiku memilih ronda dari pukul 00.00 sampai subuh. Sesuai jadwal yang telah disepakati setiap kelompok mendapat giliran seminggu sekali.

Sebagaimana minggu-minggu sebelumnya, minggu ini pun suamiku kena giliran ronda. Tidak seperti biasanya hari ini dia pulang cepat. Sebelum maghrib dia sudah di rumah. Hatiku senang karena sore-sore suami sudah ada di rumah. Berarti ada waktu untuknya bermain dengan putri kami. Ada pula kesempatan makan malam bersama.

Selepas shalat Isya' sahabat suamiku, Tohir, datang bertamu. Rupanya mereka sudah ada janji bertemu di rumah. Keduanya asyik ngobrol. Aku dan putri kami masuk ke kamar, karena putri kami sudah mengantuk. Selanjutnya aku tidak tahu apa yang dikerjakan suamiku dan sahabatnya itu. Aku melayang dibuai mimpi.

Tangisan Anak

Aku terbangun ketika tiba-tiba putri kami menangis. Kulihat suamiku tidak ada. Rupanya suamiku masih ngobrol di ruang tamu. Jam menunjuk angka 23.30. Berarti sebentar lagi suamiku berangkat ronda. Aku berusaha membujuk putriku agar diam dan kembali tidur. Kutepuk-tepuk pantatnya seperti biasa. Tapi kali ini dia tetap tidak mau diam. Kugendong, sejenak dia diam. Kemudian menangis lagi seraya menunjuk-nunjuk ke ruang tamu. Rupanya dia mengajak ke ruang tamu. Si kecil ini kemudian minta digendong ayahnya. Aku kembali ke kamar, meneruskan tidur, tapi mataku susah dipejamkan.

Tak lama kemudian kudengar si kecil menangis lagi. Susah payah suamiku membujuknya, tetap saja si kecil ini tidak mau diam. Dibawa ke kamar oleh suamiku dengan harapan bisa diam setelah melihat ibunya. Tapi si kecil justru makin keras tangisnya. Kembali ke ruang tamu, tetap menangis. Dibawa ke dapur, masih nangis. Kemudian iseng-iseng suamiku membawanya ke luar. Aneh! Mendadak si kecil diam. Dia malah tertawa-tawa kegirangan. Beberapa jenak suamiku mendendangkannya diluar rumah.

Karena sudah waktunya tugas ronda, suamiku membawa si kecil masuk dan ingin menyerahkannya padaku. Tapi, baru saja dia melangkahkan kaki masuk ruang tamu, si kecil kembali menangis keras. Suamiku kembali keluar, si kecil kembali diam. Hal ini berulang-ulang dilakukan suamiku, hasilnya sama saja. Setiap masuk rumah si kecil menangis, keluar rumah si kecil diam dan kegirangan.

Dari jauh terdengar suara kentongan ditabuh. Itu isyarat peronda harus berkumpul di pos. Suamiku kebingungan. Ingin bergabung dengan rekan-rekannya di pos ronda, tapi si kecil tidak mau ditinggal di rumah. Jika si kecil dibawa ronda tentu saja mengganggu.

Ketika kentongan ditabuh untuk kedua kalinya, suamiku harus segera ke pos ronda. Tidak ada jalan lain, akhirnya si kecil dibawa ronda. Aku kembali masuk kamar tidur. Mataku yang sejak tadi seperti diganduli beban ratusan kilogram ingin cepat-cepat kupejamkan. Aku ingin cepat-cepat tidur dan bermimpi indah.

Brukk! Aku menjatuhkan diri di tempat tidur. Tapi, baru saja aku hendak memejamkan mata, mendadak ada segumpal asap putih mengepul di depan lemari pakaian, yang berada tepat di ujung tempat tidurku. Kebetulan saat itu aku berbaring dengan posisi kakiku di arah lemari tersebut. Dengan posisi itu apa yang terjadi di depan lemari dapat terlihat dengan jelas. Gumpalan asap itu kemudian berubah membentuk sosok menyerupai manusia, tapi...tubuhnya terlalu tinggi dan terlalu besar untuk ukuran manusia biasa. Makhluk apa gerangan itu?

Menyaksikan peristiwa ajaib itu, aku terpukau. Tidak bisa berteriak karena suara tersekat di tenggorokan. Mataku nanar menatap makhluk itu. Aku tak kuasa berpaling. Sekujur tubuh mendadak kaku dan seluruh pori-pori tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Mulutku hanya bisa berkomat-kamit. Asma Allah sudah belasan kali meluncur dari mulutku. Tapi makhluk itu tetap saja berdiri di tempatnya. Tubuhnya yang lebar hampir menutupi seluruh permukaan lemari pakaianku. Sedangkan kepalanya nyaris menempel di loteng.

Aku terus saja melafalkan asma Allah. Silih berganti aku mengucapkan Allahuakbar...laailahailallah...subhanallah dll. Terakhir aku teringat pesan ibuku, agar membaca ayat kursi jika menghadapi gangguan jin. Katanya jin akan terbakar jika kita bacakan ayat kursi tersebut. Aku lalu membacanya.

Ajaib! Makhluk itu tidak lari, apalagi terbakar. Dia masih saja berdiri. Yang membuatku makin takut, makhluk itu justru ikut membaca ayat kursi. Suaranya merdu. Tajwidnya jauh lebih sempurna dari aku. Aku putus asa.

Makhluk tinggi besar itu mendekatiku. Tetapi sebelumnya dia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada dan menundukkan kepala, seakan memberi hormat. Lalu aku digendongnya seperti seorang ibu menggendong bayi. Aku dibawanya terbang meninggalkan rumah.

Aku tidak tahu bagaimana caranya makhluk yang menggendong aku itu menembus dinding atau atap rumah. Aku tidak tahu. Yang kurasakan tiba-tiba kami melayang-layang di udara. Melewati gunung-gunung, lembah, laut. Oh, aku ingat! Ada pemandangan yang sangat menakjubkan dan belum pernah aku melihatnya di alam nyata. Yakni sebuah taman bunga yang sangat indah.

Di sana beratus-ratus pohon bunga dengan warna-warna cerah. Ketika menatap bunga warna-warni itu hatiku bergetar. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Makhluk itu tidak berbicara apa-apa. Dia hanya membawaku terbang berputar-putar. Setelah dari taman bunga aku dibawanya ke sebuah telaga yang airnya sangat jernih. Di sekeliling telaga itu tumbuh rumput-rumput hijau yang segar. Udaranya sejuk dan nyaman.

Entah berapa lama aku dibawa makhluk itu terbang ke tempat-tempat asing dan indah. Aku tiba-tiba teringat anakku yang ikut ayahnya ronda. Aku khawatir anakku ingin tidur dan suamiku tidak bisa membuka pintu, karena aku kunci dari dalam. Pada saat aku memikirkan anakku itu, tiba-tiba aku mendengar suara anakku di halaman rumah. Anak yang baru belajar bicara itu berceloteh dengan ayahnya.

Allahuakbar! Sungguh Allah maha besar. Saat aku mengkhawatirkan anakku, makhluk tinggi besar yang membawaku terbang itu seakan mengerti. Dia membawaku pulang. Bersamaan suamiku menyentuh handel pintu, aku sudah kembali di pembaringan. Kulihat makhluk berjubah itu kembali menyatukan kedua telapak tangan di depan dada dan menundukkan kepala. Memberi hormat. Lalu menghilang.

Masih dalam keadaan bingung dengan pengalaman yang baru saja terjadi, aku buru-buru membuka pintu. Suami yang menggendong anakku berdiri di ambang pintu. Anakku tampak gembira. Aku buru-buru menggendongnya dan memeluknya erat. Aku masih dihantui pengalaman gaib yang baru saja terjadi.

Aku tidak punya prasangka apapun terhadap makhluk Allah. Apalagi dia tidak mencelakakan diriku maupun bayi yang kukandung waktu itu. Peristiwa itu sudah sebelas tahun berlalu, bayi yang waktu itu baru berusia 7 bulan dalam kandungan, sekarang sudah duduk di kelas VI SD. Semoga Allah memberi keistimewaan padanya. Amiin.

Catatan: Pengalaman sejati ini dituturkan kepada penulis oleh seorang ibu rumah tangga, yang namanya minta disamarkan.(Abdul Madjid)