Dilarikan makhluk halus Mesumai

Mesumai adalah sebutan masyarakat Lintang untuk makhluk halus yang biasa menyamar menjadi seseorang. Makhluk ini terkenal jahil, suka menyembunyikan seseorang dengan menyamar sebagai teman dekat, saudara atau orang tua kita.

Kemunculannya biasanya saat menjelang maghrib, tengah hari waktu menjelang shalat dzuhur atau shalat jumat atau di tempat-tempat sepi.

Suatu hari tahun 1976, desaku kedatangan seorang guru dari Yogyakarta. Sumanto, nama guru itu. Dia mengajar di SMP Negeri Pendopo Lintang. Pak Sumanto, demikian kami biasa memanggilnya, dia mondok di rumah uwakku yang mengakuinya sebagai anak angkat.

Sejak kedatangannya di desaku, dia sudah diberitahu tentang berbagai pantangan di sini. Misalnya, saat menjelang waktu-waktu shalat tidak boleh melakukan perjalanan ke tepi hutan atau ke kebun. Pulang dari kebun jangan terlalu sore apalagi sudah mendekati waktu maghrib. Jika berada di kebun atau hutan tidak boleh berteriak-teriak memanggil nama orang.

Peringatan itu ternyata tidak menjadi perhatian Pak Sumanto. Dia merasa berasal dari kota besar yang jauh dari kepercayaan berbau tahayul. Hal-hal yang lazim jadi pantangan warga setempat diabaikan saja oleh Pak Sumanto.

Hingga pada suatu hari hal yang ditakutkan terjadi menimpa Pak Sumanto. Lelaki penyandang Dan II Karate itu dikabarkan hilang. Seisi kampung geger. Semua lelaki dewasa dan anak-anak muda dikerahkan mencarinya ke dalam hutan kawasan Tebat Seghut. Pencarian berlangsung hingga tengah malam.

Pada saat tim pencari sudah berkumpul kembali di desa dengan tangan hampa, Pak Sumanto tiba-tiba muncul di samping rumah seorang warga. Dia ditemukan dalam keadaan linglung dan berusaha melarikan diri ketika berjumpa penduduk. Untung warga cepat tanggap dan langsung meringkusnya. Dia langsung dibawa pulang dan dimandikan. Setelah dibacakan beberapa ayat Al Quran barulah Sumanto sadar. Dia terheran-heran melihat banyak orang mengerubunginya.

Apa yang dialami Pak Sumato hari itu? Menurut penuturannya, siangnya, tepatnya pukul 11.30, kebetulan hari itu Jumat, dia berangkat ke kebun cengkeh milik ibu angkatnya. Dia ingin membantu memetik cengkeh. Padahal, ibu angkatnya sudah melarang dan menyarankan agar dia berangkat ke kebun seusai waktu shalat jumat. Ternyata diam-diam dia tetap berangkat.

Ketika mendekati hutan, tutur Pak Sumanto, tiba-tiba dia lupa arah ke kebun. Dia berputar-putar di satu tempat, tidak ketemu jalan. Berulang-ulang dia berjalan, tapi kembali ke tempat itu-itu juga. Akhirnya dia kelelahan, lalu beristirahat di bawah sebatang kelapa.

Saat dia beristirahat itulah ada seorang lelaki pendek dan kekar berpakaian serba hitam menghampirinya. Pak Sumanto langsung saja bertanya pada orang itu arah ke kebun Pak Haji Azis, bapak angkatnya. Lelaki berpakaian hitam itu menunjuk ke satu arah sembari menawarkan jasa mengantar Pak Sumanto.

Menurut Pak Sumanto dia mengikuti orang misterius itu berjalan menuju kebun Haji Azis. Dia merasa baru berjalan beberapa menit ketika ditemukan orang di dekat sebuah rumah penduduk. “Saya baru sadar setelah berada di rumah, ternyata saya berjalan hampir sehari penuh,” tuturnya. Sejak saat itu Pak Sumanto berhati-hati bila mendekati kawasan Tebat Seghut.(Abdul Madjid)