Dua Kali Mangunkaryo Dibawa Gendruwo

Sumber: Koran Merapi, Rabu, 21-05-2003

KISAH manusia digondhol gendruwo atau wewe biasa terdengar di tengah masyarakat. Dalam cerita, orang yang digondhol gendruwo atau wewe, umumnya agak 'linglung' begitu dilepas. Satu dua ada yang bisa menceritakan pengalamannya berada di 'dunia sana'. Tapi tak sedikit yang cuma bengong ketika ditanya lika-liku berada di 'rumah' gendruwo. (mirip dengan keadaan setelah korban diculik alien - red)

Mangunkaryo (72) warga Mendungan, Giwangan, Umbulharjo, termasuk orang yang bisa menceritakan pengalamannya berada di 'dunia' gendruwo. Kejadiannya menjadi buah bibir warga kampungnya hingga sekarang. Merapi pekan lalu juga sempat mendengar kisah itu dari mertua Satrio Lelono (39), yang mukimnya hanya beberapa ratus meter di sebelah timur rumah Mangunkaryo.

Ketika Merapi menyambangi rumah Mangunkaryo, kebetulan kakek yang di masa mudanya bernama Paijan itu ada di rumah. Dia sedang membuat tomblok, sementara Ny Pawiro (69), istrinya, duduk menunggui tak begitu jauh.

"Enggih, kula pancen nate digondhol gendruwo," katanya kepada Merapi. 'Benar, saya memang pernah digondhol gendruwo', begitu maksudnya. Menurutnya, dia malah sampai dua kali disatroni makhluk halus penunggu pohon salak tak jauh dari rumah tinggalnya.

SEJAK usia 16 tahun, Paijan sudah jadi perajin tomblok. Semacam tempat sampah yang dibuat dari anyaman bambu. Tapi tomblok buatan Paijan, khusus dijual untuk para pencari pasir. Semula hanya dijual pada pencari pasir di jembatan Tungkak, tapi kemudian juga dipasarkan ke beberapa tempat.

Saat muda, kalau tombloknya menumpuk, Paijan juga jadi tukang keruk pasir, gabung dengan beberapa temannya di jembatan Tungkak. Entah mana yang jadi sambilan atau mana yang pokok, Paijan sendiri merasa tidak jelas. Tapi membuat tomblok dan mencari pasir, memang jadi mata pencaharian utamanya.

Pada zaman Jepang, dia masih rutin mencari pasir dan membuat tomblok. "Ketika itu memang lumayan hasilnya. Mungkin, karena saya hanya menghidupi istri saja, sehingga jadi cukup makan," ungkapnya. Dengan istri pertama, Paijan tidak mendapatkan anak hingga istrinya meninggal. Paijan lalu menikah dengan Ny Pawiro, janda yang memiliki beberapa anak.

SAAT mengawini istri kedua itulah Paijan mendapat pengalaman menarik digondhol gendruwo. "Ketika itu saya berangkat setelah Subuh menuju Tungkak. Baru beberapa tikungan berjalan, di sebuah jembatan utara kampung, saya dicegat seorang pria. Dia mengenakan kain sarung dan berpakaian necis," katanya. Pria itu mempersilakan Paijan mampir di rumahnya.

Melihat kebaikan pria itu, Paijan pun menurut. Pria itu lalu mengajaknya duduk-duduk di beranda sebuah rumah yang amat bagus. Beberapa makanan kecil dikeluarkan. Paijan juga disuguhi rokok segala.

Menurutnya, dia tidak sempat memakan suguhan, tapi hanya menyulut sebatang rokok. Sementara keenakan menghisap rokok, pria itu masuk ke dalam rumah. Karena terlalu lama menunggu, Paijan ketiduran di bangku beranda rumah itu.

"Tapi saat saya bangun, ternyata saya berada di tengah kebun salak. Hari pun sudah menjelang Maghrib. Saya baru bisa keluar kebun setelah ditolong beberapa warga," katanya. Ketika ditolong, banyak warga keheranan, kenapa Paijan bisa berada di tengah kebun salak yang begitu lebat. Ketika Paijan menceritakan pengalamannya, warga setempat jadi gempar.

MUNGKIN Paijan memang sudah diincar gendruwo kebun salak itu. Pasalnya, toblas-toblas ..., kejadian yang sama dan serupa menimpanya lagi. Selang beberapa hari setelah kejadian pertama. Tapi kali itu, yang menghadang justru 'istri' sendiri. "Terang saja saya menurut semua yang diperintahkan. Namanya juga istri, mana mungkin ditolak," katanya.

Paijan malah lama diajak bincang-bincang 'istrinya' itu. Tapi Paijan mengaku sempat heran karena rumah yang ditinggali 'istrinya' agak lebih baik dibanding rumah sendiri. Toh begitu dia tidak ambil pusing, sebab 'istrinya' sempat menyampaikan banyak alasan.

Gandrik ! Seperti kejadian pertama, lagi-lagi saat Paijan nglilir, dia berada di tengah kebun salak itu lagi ! Warga Mendungan pun jadi heran bin merinding mendengar penuturan Paijan alias Mangunkaryo.

Sampai di rumah, Paijan malah disemprot habis-habisan Ny Pawiro karena seharian tidak bekerja sehingga tak ada duit dibawa pulang. "Saya seharian tidak bertemu kamu ! Jangan ngaco ! Saya di rumah terus, saksinya anak-anak," begitu semprot istrinya seperti ditirukan Paijan.

Hingga sekarang Mangunkaryo masih berprofesi jadi pembuat tomblok. Sehari sebiji bisa diselesaikannya. Dia mengaku hasilnya hanya cukup untuk membeli tembakau linting. (Jbo)-a