Kontak dengan reptilian?

Sumber: Minggu Pagi Online, No. 60 Maret 2002


Makhluk aneh itu mendekat pelan-pelan. Tubuh-nya yang transparan terlihat samar-samar seperti manusia berpakaian astronot. Kulitnya yang mirip badak membingungkan, itu tubuh atau pakaian. Matanya yang seperti faset capung mengeluarkan sinar ha-lus. Walau aneh, aku merasa bahwa, dia bukan demit.

Buktinya, bulu kudukku tidak meremang seperti biasanya, kendati sewaktu menyapaku, mulutnya mirip ular, horizontal sampai bawah telinga. Suaranya yang sember keluar seperti erangan atau celoteh. Tapi anehnya, bahasa yang tidak kukenal itu dapat kumengerti maknanya.

"Kuperiksa darahmu, apakah cocok dengan darahku", katanya bersuara seperti terganggunya frekuensi radio. Uniknya lagi, aku menjawab, "Silakan", dan suaraku juga terdengar seperti gelombang radio yang meleset tuningnya.

Dialog aneh dengan kombinasi suara kresek-kresek, denging, seperti dengkur, desis dan sebangsa-nya terus berlangsung. Sementara, wewujutan mirip robot insekta itu terus mendekat dan tangannya yang hanya memiliki tiga jari itu memegang sebangsa alat suntik berwarna perak dan berjarum transparan makin dekat, sampai akhirnya leherku dipegang dengan tangan kiri.

Dingin tetapi tidak menyakit-kan. Tangan kanan terayun, jarum seperti mika menghujam ke leher sebelah samping. Lalu disedotnya darahku. Satu tube penuh terisi darah. Lantas ditumpahkan ke telapak tangan kirinya. Mukanya berseri, mulutnya menganga sebagaimana orang tertawa. Kelihatan lidahnya ada di samping kiri dan kanan mulut, nyaris seperti sapit.

Kembali kepalanya mengangguk-angguk dan derit di mulutnya terproses dalam otakku sebagai kalimat, "Kamu bukan musuh. Darahmu sama dengan darahku. Darah biru dapat saling menolong. Kamu harus menolongku. Aku dapat menolongmu kalau kau butuhkan. Panggil saja aku kalau perlu bantuan", celotehnya seperti derit pintu berkarat.

Aku hanya dapat mengangguk-angguk heran. Pertolongan macam apa yang dibutuhkan, bagaimana bentuk bantuannya kepadaku dan bagaimana memanggilnya, karena setelah menyatakan pendapat, sosok aneh itu pelan-pelan menjadi bening, makin transparan dan setelah itu lenyap sama sekali. Aku bengong di malam buta itu. Aku tidak mimpi, tapi tuidak sadar mengalami kejadian yang misterius.

Dalam keadaan sadar murni aku tidak tahu telah bertemu dengan makhluk yang tidak kuketahui identitasnya. Aku percaya, sosok itu bukan jin karena sama sekali tidak ada rasa bergidik sedikit pun.

Cuma, aku tidak yakin, bagaimana menghadirkan kembali sosok itu kalau ingin minta bantuan. Sebab, sebelum lenyap, dia tidak menyebut namanya dan tidak menyatakan kiat memanggilnya. Sehingga aku hanya berdesis, "Saudaraku, bantulah aku mencari rizki untuk kesejahteraan keluargaku", bisikku sebelum tidur. Alhamdulillah, sampai sekarang memang selalu ada rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. [n]