Tiba-tiba kaku dan pindah ke "alam" lain

Sumber: Samarinda Pos Online, Kamis, 3 Maret 2005

Pulang kerja seperti biasa sampai di rumah sekitar jam 8 malam. Aku mengisi waktu istirahat d engan ngobrol bareng keluarga, kalau lagi pada ngumpul, tapi yang lebih sering curhat dengan mama. Aku ga bisa nahan diri sih, ga bisa nunggu sampai hari sabtu dan minggu untuk curhar dengan mama. Soalnya, kedua orangtua mengajarkan kejujuran. Meski hal seperti ini susah banget melaksakannya.

Di rumah lampu biasa dimatikan jam 10 malam, kecuali kamarku, kamar ortu dan wc. Jam segini biasanya, kami harus sudah tidur, kecuali kalau ada acara televisi menarik, misalnya sepakbola. Aku cewek satu-satunya, serta tidur terpisah dari kakak dan adikku.

Kisahnya dari sini, tanggalnya aku ingat sekali yakni Rabu 12 april 2000. Kebanyakkan orang tidur bisanya terbangun di tengah malam, mungkin karena ingin pipis, sama halnya dgn aku. Lalu aku bergegas ke wc yang gak jauh dari kamarku.

Setelah selesai aku cuci kaki lagi biar gampang tertidur, waktu masuk kamar aku lihat jam menunjukkan 1 lewat 20 menit, aku rebah ditempat tidur. Kedua kakiku masih menginjak lantai, lalu kaki kiriku kunaikkan ketempat tidur terlebih dahulu, kemudian kaki kanan menyusul. Aku masih terjaga.

Keanehan kemudian dirasakan olehku, mulai dari ujung jemari kakiku, tanganku, sampai d engan pangkal leher, aku tak dapat menggerakkan mereka. Tapi aku masih bisa melihat ruangan kamarku, aku kosentrasi dengan telingaku, tapi aneh sepertinya aku sudah tuli, mulutku, aku masih bisa mengucap "mama" tapi suaraku sendiri aku tak bisa mendengarnya.

Ruangan kamarku dari yang tadi terang benderang, meredup kekuning-kuningan, kucoba menggerakkan bibirku tapi kaku. Dengan penglihatan yang kupaksakan, aku melihat mama duduk disampingku, dan kulihat dia melihat ke arahku. Lalu, berangsur-angsur sekelilingku mulai berwarna abu-abu, kemudian hilang warnanya, berubah menjadi hitam, aku tak bisa melihat mamaku lagi.

Tiba-tiba saja terganti dengan sosok wanita cantik rupawan, kulitnya bagaikan kilauan mutiara di dunia. Gaunnya putih indah cemerlang sekali seperti kristal. Lalu selesai, aku buta, aku mati. Lalu tiba-tiba tubuhku bisa digerakan kembali, lalu mataku kembali normal lagi. Tidak sadar aku meneteskan airmata, aku menangis.

Aku berucap syukur aku masih hidup aku kira aku sudah mati karena itu bukan mimpi benar-benar bukan mimpi sebab aku dalam keadaan masih sadar terjaga.

Paginya selesai sholat subuh, aku menceritakan kejadian yang kualami pada keluargaku. Mereka berujar kalau aku akan diberi umur panjang, dan banyak-banyak beramal kebaikkan. "Ya, aku suka dengan mereka bisa saja menyenangkan hatiku."(astc)