Artikel/berita ini dikirimkan oleh Rudy Fransiskus ke milis BETA-UFO tanggal 14 Oktober 2000 yang mengutip dari harian Equator. Tanggal muatnya 29 Sep, 30 Sep dan 2 Okt.



Menyusuri Jejak Big Foot, Makhluk Aneh Di Tayan -(1)-
Aksinya, Gemparkan Masyarakat Tayan Hilir

Pontianak , Equator
Kehadiran Mahkluk Aneh yang beraksi mengobrak-abrik rumah warga ternyata menggemparkan masyarakat Tayan. Ada dugaan, makhluk ini bernama Big Foot yang pernah ditemukan tewas di Desa Ara Embaloh Hilir. Berikut laporan wartawan Equator yang mencoba menelusuri kejadian tersebut di Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau.
Kecamatan Tayan Hilir di Kabupaten Sanggau berpenduduk 25.559 Jiwa dengan luas wilayah 1.050 KM2. Dengan mata pencaharian penduduknya sebagai petani dan pedagang, kehidupan kota ini cukup tenang kendati sempat dilanda tragedi besar kerusuhan etnis beberapa tahun silam. Tapi baru-baru ini, ketenangan warga Kecamatan Tayan Hilir terusik. Ini gara-gara kehadiran seekor makhluk aneh yang beraksi mengobrak-abrik rumah warga Desa Pulau Tayan Utara yang letaknya berada di ibukota kecamatan Tayan Hilir. Kendati kejadian ini hanya terjadi di desa Pulau Tayan Utara, tak urung sejumlah desa lainnya menjadi resah. Menurut Salihin (72), warga Dusun Tayan Barat yang rumahnya dibongkar oleh makhluk aneh tersebut, kejadian aneh ini bermula dari adanya jeritan istri H.Musran yang melihat sebuah bentuk tangan aneh yang membengkas dan muncul diatas atap rumahnya Kamis (7/9) pukul 17.30 WIB. Saat dicek warga yang segera berdatangan karena penasaran suara jeritan tersebut, ternyata keberadaan makhluk aneh tersebut sudah menghilang. Tak menemukan apa-apa, warga pun kembali ke tempat masing-masing sebab saat itu, hari menjelang maghrib. Rupanya, keheranan warga tak sampai disitu. Malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, balik rumah Salihin yang didatangi makhluk aneh ini. "Saat itu kami sedang berada dikamar. Tahu-tahu mendengar suara berisik dari arah dapur. Benar saja, saat kami periksa ternyata beberapa bagian dapur telah dibengkas begitu cepat tanpa kami ketahui orangnya," ungkap Salihin. Penasaran, bersama sejumlah warga, Salihin lantas memeriksa sekeliling rumahnya. Tapi tetap tak menemukan apa-apa. Begitu juga jejak kaki yang diharapkan dapat membawa titik terang kearah siapa yang telah membongkar rumahnya, tetap nihil. Kendati masih menyisakan keheranan, Salihin mengaku tetap melanjutkan tidurnya. Pukul 01.00 WIB Jumat (8/9) kemudian, kembali Salihin mendengar suara berisik dari arah dapur. Diliputi perasaan takut-takut, bersama istri, Salihin lantas mengecek kembali suara berisik tersebut. "Yang membuat kami terkejut, ternyata suara berisik tersebut berasal dari seseorang yang telah membongkar kembali dinding dapur. Tak tanggung-tanggung, ia malah membongkar setiap sisi dinding sehingga menimbulkan enam lobang besar," ungkapnya lagi. Mulanya ia sempat berpikir kalau perbuatan tersebut adalah ulah pencuri yang berusaha memasuki rumahnya. Tapi menyadari bahwa ia tak memiliki barang berharga, maklum Salihin hanyalah seorang petani yang serba kekurangan, ia pun mulai berpikir kalau hal tersebut pasti ada hubungannya dengan kejadian aneh yang menimpa tetangganya yakni keluarga H.Musran beberapa jam sebelumnya. "Apalagi setelah saya teliti, ternyata dinding dapur yang dibongkar tersebut dibagian atas yang tingginya 2 meter dan didinding itu juga saya temukan guratan bekas cakaran. Dari tidak adanya bekas tangga, mustahil manusia dapat melakukan hal ini," ujarnya. Keesokan harinya, kejadian ini segera menyebar ke seluruh pelosok kota Tayan. Isu pun timbul bermacam-macam sehingga semakin mencemaskan warga. Aparat pun sibuk melakukan penyelidikan mengungkap kasus dua pembongkaran rumah salihin dan atap rumah H.Musran. "Yang membuat kami heran, kalau ini perbuatan pencuri kenapa ia membongkar rumah orang miskin. Apalagi beberapa jam sebelumnya ia juga telah membongkar rumah tetangga saya. Mustahil ada pencuri nekad seperti itu," komentar Salihin. Belakangan, peristiwa aneh ini mulai mendapat titik terang. Ini berdasarkan pengakuan Neliana, Siswi SLTP II Tayan yang juga tetangganya Salihin. Menurut Neliana, selama kejadian tersebut ia telah melihat sebuah sosok besar berkulit hitam sedang berlari dari arah hutan menuju hilir Sungai Tayan, tempat dimana pemukiman penduduk berada. Keterangan ini didukung oleh pengakuan beberapa sumber lain yang enggan disebutkan namanya, yang mengatakan telah melihat makhluk yang serupa. "Bahkan saya telah melihat ia berjalan seperti seekor kera besar. Tapi wujudnya serba kecoklatan," ungkap sumber ini. Tak urung, beberapa pengakuan ini semakin membuat warga cemas. Apalagi ada isyu itu adalah makhluk jadi-jadian yang sedang mencari anak kecil atau ibu hamil untuk dimakan.


Menyusuri Jejak Big Foot, Makhluk Aneh di Tayan -(2)-
Berbadan Gorila, Kepala Mirip Ular

Pontianak , Equator
Ada beberapa warga mengaku pernah melihat bentuk makhluk aneh itu mirip gorila dan berkepala lonjong mirip ular. Banyak cerita berbeda versi, tapi wujud gorila agaknya lebih dipercayai warga setempat. Benarkah ? TIGA jam setelah Equator berada di Desa Pulau Tayan, diperoleh kesimpulan ternyata warga setempat cukup cemas atas munculnya makhluk tersebut. Apalagi yang dibongkar rata-rata rumah yang penghuninya memiliki bayi ataupun wanita hamil. Terang saja, isu makhluk itu berniat memakan manusia jadi melebar. Empat hari setelah rumah Salihin dibongkar, Minggu (10/9) pukul 17.45 WIB lagi-lagi warga setempat dibuat gempar. Kali ini betul-betul aneh, ketika giliran rumah Nurhasikin (38), persis di belakang rumah Salihin yang keduanya masih bersaudara. Dituturkan Nurhasikin, pada saat kejadian ia sedang berada di sungai. Kemudian mendapat informasi dari tetangganya yang telah mendengar suara mencurigakan di rumahnya. Penasaran dan menduga-duga ulah makhluk aneh itu lagi, Nurhasikin bergegas pulang. Lagi-lagi ia dan warga dibuat terbengong-bengong, karena dinding dan lantai rumahnya telah dibengkas. Saat dicek sekelilingnya, tak ada satu jejak pun ditemukan. Berita pembongkaran ketiga itu, kembali mengundang kedatangan warga. Kali ini warga, yang jumlahnya mencapai ratusan dan berbekalkan senjata tajam itu, langsung mengepung lokasi termasuk menjaga kemungkinan larinya makhluk itu ke arah hutan dan sungai. "Berjam-jam menelusuri lokasi dan setiap jengkal tanah, tapi makhluk aneh pembongkar rumah itu tetap misteri. Apa mungkin menghilang begitu cepat kalau memang manusia?" ungkap Nurhasikin heran. Masih penasaran, bersama anggota Polsek Tayan, warga kembali menyisir lokasi tersebut. Namun hingga menjelang malam, jejak makhluk itu tetap tak ditemukan. Tapi pukul 20.00 WIB, saat warga sudah pulang ke rumah masing-masing, kembali gempar karena kediaman Iwan (27) yang berjarak sekitar 100 meter dari kediaman Nurhasikin, dibongkar oleh makhluk itu lagi. Kali ini betul-betul luar biasa. Karena kejadiannya sampai dua kali. Pukul 20.00 WIB dan Pukul 21.00 WIB. Dikatakan Iwan, kejadian pertama cukup aneh karena makhluk ini tampaknya ingin bermain-main dengan cara mendirikan papan yang sebelumnya berada di bawah rumahnya. "Begitu saya dengar suara mencurigakan, saya lihat sebilah papan sudah dikeluarkan dari bawah lantai rumah. Karena tak menemukan apa-apa saya pun tak ambil pusing. Namun sesaat kemudian saya mendengar suara aneh lagi, tahu-tahu papan tersebut sudah berdiri dan disandarkan ke dinding rumah," ungkap Iwan. Penasaran, ia dan keluarganya lantas memeriksa sekeliling rumah, tapi sayangnya tak menemukan apa-apa. Belum habis rasa kagetnya atas kejadian pertama, tiba-tiba suara aneh kembali terdengar. Saat dicek, ternyata dinding rumah dan jendela yang bahannya dari kulit kayu sudah dicakar-cakar oleh kuku tajam. "Jendela rumah itu nyaris bobol karena dicakar, selain itu makhluk ini juga menguliti dinding rumah sehingga tampak jelek sekali. Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan, saya pun segera memanggil warga untuk memeriksa bersama-sama. Tapi tetap tak ditemukan apa-apa," ungkap Iwan lagi. Isu makhluk aneh itu kemudian semakin menghangat. Ini berdasarkan pengakuan Sanijah (35), penjual pecal yang pernah melihat makhluk ini. Kalau sebelumnya warga belum dapat memastikan bentuk makhluk yang telah menghebohkan tersebut, pengakuan Sanijah agaknya menjawab teka-teki tersebut. "Saya sampai pingsan melihatnya. Bentuknya sangat menyeramkan. Berkepala lonjong mirip ular dan mengkilap disinari lampu rumah, badannya juga mengerikan. Serba hitam dan berbulu. Pokoknya saya tak ingin melihat bentuk makhluk itu lagi," ujarnya bergidik ngeri. Ceritanya, saat itu ia sedang memasak sayur-mayur bahan pecal di sebuah pondok tak jauh dari rumahnya. Kendati rumahnya saat itu kosong karena suami dan anaknya sedang ke pasar, Sanijah mengaku tak takut. Pada perjalanan pertama membawa sebuah periuk untuk dimasukkan ke rumah, tak ada yang aneh. Namun pada perjalanan kedua, ia pun kaget. Karena di bawah sinar lampu teras, ia melihat sesosok makhluk sedang duduk dengan tingkah aneh di tangga. Penasaran karena berpikir itu mungkin anaknya, ia pun mendekat. "Perkiraan saya ternyata salah. Sebab orang itu bukan anak saya, tapi seekor makhluk aneh. Tak tahan melihat hal yang menyeramkan itu, saya pun menjerit ketakutan dan langsung pingsan," ungkapnya. Karena jarak rumah yang berjauhan, rupanya tetangga tak mendengar jeritan tersebut. Ia baru sadar sesaat kemudian dan menemukan makhluk itu sudah tidak ada. Pengakuan ini akhirnya yang membawa masyarakat Desa Pulau Tayan Utara semakin gempar. Wajar saja, aparat pun sibuk menyelidiki makhluk tersebut. Apakah berindikasi maksud kriminal atau bukan. Di lain sisi, aparat juga sibuk meneliti apakah ini betul-betul Big Foot ataukah manusia jadi-jadian.


Menyusuri Jejak Big Foot, Makhluk Aneh Di Tayan -(3/habis)-
Big Foot, Nyata atau Hanya Fantasi?

Pontianak , Equator
Sehari setelah Sanijah mengaku melihat makhluk aneh tersebut, warga pun kian penasaran bercampur cemas. Bagaimana sih wujud makhluk aneh berbentuk gorilla seperti yang dijumpai Sanijah, penjual pecal itu? "Tapi yang pasti sejak kejadian beruntun itu, warga memang terus menerus waspada. Bahkan untuk menanggulanginya, siskamling pun sudah kami bentuk secara bergiliran setiap malam," ungkap A Thuk, warga Jalan Dwikora Tayan, kepada Equator. Tak heran, setiap ada kejadian aneh, ratusan warga dalam tempo singkat sudah berkumpul di lokasi dengan berbagai jenis senjata tajam. Dan tentu saja berbagai cerita muncul tidak persis satu sama lain. Mungkin sudah bertambah-tambah bumbu. Terhadap kondisi tersebut, Sekwilcam Tayan Hilir, Agatho Adan, mewakili Camat Drs. Heriyanto kepada Equator mengatakan, kecemasan warga terhadap makhluk tersebut terlalu berlebihan sehingga mengundang terjadinya kerawanan sosial baru. "Tidak mustahil, kalau keberadaan makhluk aneh ini hanya dibuat-buat saja oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk mengalihkan perhatian agar mudah melakukan tindakan kriminal di tempat lain," ujar Adhan. Sedangkan menurut Pendeta Martinus Cion saat ditemui di Gedung Gema Pemberita Injil Tayan Hilir, mengatakan, dirinya secara pribadi bahwa dunia roh itu ada jika memang mahkluk aneh yang selama ini dicemaskan warga adalah makhluk jadi-jadian atau siluman. "Secara konkret hal tersebut amat sulit dibuktikan. Kendati demikian, apapun bentuknya makhluk itu, entah fakta atau sekedar fantasi, kami mengimbau agar warga tenang dan tidak usah cemas. Tingkatkan kewaspadaan agar hal-hal yang buruk tidak terjadi," harapnya. Lain halnya dengan Marsono, Kades Desa Pulau Tayan Utara. Ditemui di kediamannya, ia mengatakan agaknya kebenaran isu big foot dapat saja dipercayai karena sejumlah pengakuan yang disampaikan warga sudah mengarah ke sana. "Sama halnya dengan pengakuan Neliana dan Sanijah serta sejumlah warga lainnya, Jam (40) mengaku juga pernah mendapat bukti cukup mengenai Big Foot tersebut," ungkap Marsono. Bukti-bukti tersebut menurutnya adalah sebuah tapak kaki berukuran besar di pinggir rumah Jam. Namun sayangnya, saat Equator datang ke lokasi, jejak tersebut sudah terhapus oleh air hujan yang kerap mengguyur kota Tayan. Dua hari berada di Tayan untuk mengumpulkan beragam informasi, ternyata cukup sulit untuk menyimpulkan identitas jelas makhluk tersebut. Begitu juga pendapat yang berkembang di masyarakat, sebagian ada yang mengatakan itu adalah Hantu Gergasi, sedangkan sebagian lain menganggapnya sebagai makhluk jadi-jadian ataupun trik baru maling untuk menjalankan aksinya. Kalau memang dugaan bahwa makhluk tersebut termasuk salah satu golongan big foot benar, agaknya hasil temuan yang selama ini hanya ditemukan tapak kakinya saja oleh tim peneliti dari Fakultas Pertanian Untan beberapa tahun silam dapat saja ditindak lanjuti. Waktu itu, diameter kakinya ditemukan berukuran 1,5 - 2 meter. Namun keberadaan binatang langka ini memang sulit terlacak. Sekitar tahun 1964, warga di Danau Ara Kecamatan Embaloh Hilir, menurut mantan camat kawasan itu I.D Soeryamassoeka, pernah menemukan jenis binatang serupa dalam keadaan sudah mati. Tingginya sekitar 2,5 meter, dan binatang ini oleh warga setempat disebut sebagai "Hantu Gergasi". "Binatang ini mati, karena makan perut babi, yang memakan racun tanaman, yang biasa dipasang warga untuk mengentaskan hama babi," jelasnya. "Ironisnya, pasangan (isteri) dari binatang ini sempat ngamuk, begitu mengetahui suaminya tewas. Sehingga penduduk kampung waktu itu lari ke lanting (rumah di atas air-Red), dan tidur di sana," tambahnya. Apakah pasangan dari big foot yang ditemukan tahun 1964 itu yang sekarang berkeliaran di Tayan? Jawabannya, jelas perlu penelitian lebih lanjut.