Halo Matahari merupakan fenomena astronomis dan meteorologis yang biasa. Banyak orang terpesona dengan fenomena ini sehinga mengamati halo Matahari dengan mata telanjang. Padahal mengamati matahari langsung bisa menyebabkan retina terbakar.

Berikut contoh kasus halo matahari yang dipersepsi keliru sebagai UFO

"Halo Matahari akibat Pembiasan Cahaya"

Sumber: Kompas 3 Maret 2004

SIANG kemarin, dering telepon yang tidak berhenti di Redaksi Kompas diselingi dengan beberapa telepon yang menanyakan fenomena Matahari yang tidak biasa. Hari Selasa (2/3) menjelang pukul 12.00-saat Matahari sedang bersinar terik di atas kepala-beberapa orang menyaksikan ada semacam halo atau lingkaran gelap yang mengelilinginya.

"Apakah sedang terjadi gerhana Matahari?" tanya seorang guru yang siang itu sedang berada di luar kelas bersama murid-muridnya.

Sayang sekali, dugaan di atas ternyata tidak benar. Menurut Bambang Setiahadi, peneliti dari Stasiun Pengamatan Matahari Watukosek yang tercakup dalam Stasiun Pengamatan Dirgantara Lapan di Watukosek, Jawa Timur, halo yang terlihat melingkari Matahari tersebut sebenarnya merupakan hasil pembelokan cahaya Matahari oleh partikel uap air di atmosfer.

"Jadi, pada musim hujan ini partikel uap air ada yang naik hingga tinggi sekali di atmosfer. Partikel air memiliki kemampuan untuk membelokkan atau membiaskan cahaya Matahari," papar Bambang saat dihubungi Selasa petang.

Karena terjadi pada siang hari, saat posisi Matahari sedang tegak lurus terhadap Bumi, maka cahaya yang dibelokkan juga lebih kecil. "Itu sebabnya yang tampak di mata masyarakat yang kebetulan menyaksikannya adalah lingkaran gelap di sekeliling Matahari," tambahnya.

Fenomena itu sebenarnya sama saja dengan proses terbentuknya pelangi pada pagi atau sore hari setelah hujan. Menurut Bambang, lengkungan pelangi sering terlihat di bagian bawah cakrawala karena partikel uap air yang membelokkan cahaya Matahari berkumpul di bagian bawah atmosfer. Di sisi lain, pada pagi atau sore hari Matahari pun masih berada pada sudut yang rendah.

"Pada posisi yang miring ini, kemampuan partikel air membiaskan cahaya lebih besar, sehingga warna-warna yang muncul juga lebih lengkap," jelasnya.

Pada siang hari, saat Matahari pada posisi tegak lurus terhadap Bumi, kemampuan pembelokan cahaya menjadi rendah sehingga warna yang terlihat sangat terbatas. "Warnanya terlihat gelap karena pandangan ke arah Matahari juga terhalang debu. Kalau pada pagi hari, saat udara masih bersih, yang tampak adalah warna kemerahan," kata Bambang.

Tidak mengherankan bila fenomena halo ini juga hanya terlihat pada siang hari, sekitar pukul 12.00-1300. Selain itu, sama seperti pelangi, fenomena halo juga hanya bisa disaksikan pada musim hujan.

"Nanti setelah musim hujan berakhir, tak ada lagi halo maupun pelangi. Soalnya, di atmosfer sudah tidak ada lagi uap air," ujarnya.


Detikcom melaporkan bahwa fenomena itu sempat dikira sebagai UFO. Mata telanjang bisa melihat secara jelas indahnya Matahari yang dikelilingi cincin berwarna pelangi itu. Di Jakarta sendiri fenomena ini sempat membuat heboh. Sejumlah karyawan di ruas Jl. Sudirman sempat heboh karena ada isu turunnya UFO (unidentified flying object). Namun, setelah detikcom melakukan pengecekan, ternyata yang dimaksud adalah 'halo' Matahari. Seorang karyawan yang berkantor di Wisma Nusantara, Jl. Sudirman, Feby juga mengaku mendapat kabar ada UFO. "Saat itu, jam 11.30 WIB."

getty images
 

External links

Halo (optical phenomenon) From Wikipedia, the free encyclopedia