Demak - Semarang, Nopember 2005

Telah terjadi fenomena "hantu cekik" di daerah Demak dan Semarang pada bulan Nopember 2005. Berbagai surat kabar melaporkan tentang berita ini. Mengapa fenomena yang dianggap oleh masyarakat sebagai hantu ini dianggap ada hubungannya dengan fenomena UFO? Karena fenomena ini disertai dengan munculnya bola api yang melayang serta munculnya sesosok orang tua berkepala gundul (mirip deskripsi greys). Dilaporkan pula ada sejumlah korban tewas karena dibunuh oleh "hantu cekik" ini. Empat warga Dukuh Kendalasem Desa Rejosari Kecamatan Karangtengah dinilai mati secara janggal. Terutama, Sisusilo (27) yang diketahui ada tanda hitam di lehernya, seperti dicekik.

Beberapa sumber berita yang bisa dilihat:


Masyarakat perbatasan Demak-Semarang sudah hampir seminggu diresahkan oleh kemunculan hantu cekik. Sampai Sabtu (19/11) dinihari warga di empat kecamatan, diantaranya Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak, Kelurahan Karangroto Genuk Semarang, Kelurahan Kudu Genuk, Kelurahan Banjardowo Genuk dan Tambaklorok Kelurahan Tanjung Mas Semarang Utara terpaksa tidur di luar rumah secara bergerombol. Mereka resah dan takut akan kedatangan sosok misterius yang tiba-tiba bisa mencekik leher mereka.

Korban cekikan pun kian bertambah. Suwarti (54) warga Kudu mengaku, pada Jumat malam (18/11) sekitar pukul 19.15 dirinya secara tiba-tiba gagap dan merasakan napasnya sesak. Di hadapannya terlihat samar-samar seperti ada seseorang yang mencekik lehernya. Suwarti meronta-ronta hingga akhirnya ditolong beberapa warga yang ada di sekitar rumahnya.

Tak lama setelah ditolong, dua warga lainnya Saiful (9) dan Ika (6) mengalami hal sama. Keduanya tiba-tiba merasakan lehernya seolah ada yang mencekiknya. Napasnya sesak dan leher terasa ada yang mencekik. Kedua korban tersebut bisa diselamatkan setelah warga memapahnya keluar rumah.

Kasus yang sama juga terjadi di Kampung Karangroto, Kelurahan Karangroto Kecamatan Genuk Semarang. Sedikitnya sembilan warga mengalami nasib yang sama. Bahkan warga mengalami kejadian aneh, seperti melihat secercah cahaya putih masuk ke rumah warga yang menjadi korban hantu cekik. Tak lama setelah cahaya masuk ke rumah warga, salah seorang pemilik rumah pasti ada yang jadi korban cekikan.

Namun setelah warga mendatangi rumah tersebut, menemukan sesosok kelelawar sebesar kucing keluar dari rumah korban. Kelelawar tersebut memiliki ciri matanya menyala merah dan memiliki taring panjang.

“Kelelawar misterius tersebut sempat dikejar-kejar warga hingga akhirnya terkena pukulan bambu kuning yang dibawa warga. Anehnya, kelelawar yang jatuh di selokan menghilang setelah dicari warga,” ungkap Nugroho, warga setempat.

Nugroho juga menceritakan, Selasa (15/11), banyak warga Karangroto yang melihat adanya bola api melayang di atas pemukiman penduduk. Bola api tersebut jatuh dan berubah menjadi sesosok orang tua berkepala gundul. Anehnya, tubuh orang tua tersebut menyala seperti lampu sorot. Warga lain, Pardiman saat melakukan patroli Siskamling di kampung sempat memergoki seorang wanita tengah berjalan sendirian. Saat ditegur, ternyata wanita tersebut memandangnya dengan nada marah. “Mata wanita itu kemudian menyala seperti kelereng. Saat itu saya lari memanggil teman-teman. Tapi setelah warga mendatangi lokasi itu sudah tak mendapati wanita misterius tadi,” ungkapnya.

Jumat (18/11) malam sekitar pukul 18.00 WIB warga digegerkan lagi kemunculan kelelawar misterius. Saat dikejar warga, kelelawar sempat menabrak tembok bangunan rumah milik Narto (35) di Kampung Karangroto Barat IX. Tembok penyangga atap tersebut ambrol setelah tertabrak kelelawar. Tak berapa lama warga mengejar kelelawar, warga lain menemukan bungkusan kain putih berisi paku, kacang hijau, cabe dan jarum. Oleh Munawar, salahseorang warga yang dituakan, bungkusan tersebut dibakar dan mengeluarkan bola api bercahaya putih.

Di desa terpisah, Tambaklorok Semarang Utara yang berjarak sekitar 4 kilometer dari Karangroto pada waktu yang hampir bersamaan juga mengalami hal sama. Suradi (35) menjadi korban hantu cekik saat dia tidur di dalam kamar rumahnya Tambakrolok RT 06 RW 12 Kelurahan Tanjung Mas Semarang. Selain dicekik, dadanya juga dicakar oleh sosok misterius. Luka cakar yang dialami sepanjang 6 sentimeter. Korban lainnya adalah Jayadi (32), Lukman (17) dan Nur Anis (10).

Tim Medis dari RS Dr Kariyadi Semarang, Dr Ufa Jumat (18/11) malam mendatangi beberapa lokasi yang dihebohkan oleh hantu cekik. Dalam pemeriksaan satu per satu korban tidak ditemukan latar belakang kejadian yang disebabkan histeria atau trauma. Namun pada beberapa korban ada yang disimpulkan karena halusinasi akibat kurang tidur. Sebab saat digemparkan oleh hantu cekik, warga tak dapat tidur nyenyak dan harus berjaga di depan rumah masing-masing. Anak-anak pun merasakan hal sama.

Tentang cakaran di kulit korban, Dr Ufa mengidentifikasi jenis luka akibat sayatan benda runcing, bukan dari luka akibat goresan kuku.

“Secara medis bisa disimpulkan histeria atau trauma bisa terjadi karena mimpi buruk atau pengalaman buruk. Disamping itu juga bisa karena kurang tidur yang berakibat pada penciptaan halusinasi. Namun kasus di beberapa lokasi korban hantu cekik ini tergolong aneh. Karena lokasinya di banyak tempat dan orang yang menjadi korban dengan perbedaan umur, jenis kelamin, status perekonomian dan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan,” ungkap Dr Ufa, dokter siaga UGD.

Seorang paranormal, Ahmad Zein dari Petolongan Semarang yang dihadirkan untuk melihat fenomena hantu cekik mengungkapkan adanya ketidakwajaran yang bukan dibuat oleh sekelompok manusia untuk meresahkan masyarakat, namun karena imbas dari perilaku makhluk gaib. Saya minta warga jangan mudah mengambil praduga. Sebab bisa menimbulkan fitnah. Saran saya, warga bisa melakukan doa bersama dan minta petunjuk-Nya. Gejala seperti ini akan hilang dengan sendirinya,” ungkap Ahmad Zein.

Sampai Sabtu pagi, warga masih berjaga di kampung masing-masing. Mereka membawa bambu kuning yang dipercaya mampu menolak balak.

Hampir tiap malam suasana kampung yang menjadi sasaran hantu cekik terasa mencekam. Banyak warga yang keluar rumah untuk jaga malam. Bahkan sering terdengar suara kentongan dan adzan yang menandakan adanya korban atau warga melihat kejadian aneh.

Sampai saat ini aparat keamanan belum bisa memastikan latar belakang yang mengakibatkan keresahan masyarakat. Aparat Babinsa yang diterjunkan hanya bisa melakukan tindakan untuk menenangkan warga, bukan mengatasi masalah.