Gunung Kidul, Agustus 2003

Koran Merapi, Senin, 25-08-2003
http://www.koranmerapi.com/article.php?sid=11309

Peristiwa ini mungkin berkaitan dengan penampakan di Banyuraden, Sleman di waktu yang hampir sama.


Jelang tengah malam Selasa Kliwon yang baru lalu, di wilayah kabupaten Gunungkidul, banyak orang dikagetkan munculnya sinar terang, meluncur dari arah barat ke timur. Beberapa orang yang sedang membakar batu gamping, spontan menanggapi dengan teriakan. Sebab cahaya (tejo) tersebut cukup terang, dan menghilang secepat kilat.

“Apa ya sing liwat mau ?” Apa yang sedang lewat ? Begitu tanya Pardiman kepada temannya. “Embuh, ra ngerti. Sing cetha ana cahyo padang, muga-muga nggawa kabecikan.” Yang ditanya mengaku tidak tahu, tapi semoga cahaya terang itu membawa kebaikan, begitu jawab mBah Martomo.

Itulah sepenggal dialog buruh tobong, yang sedang membakar batu putih dijadikan gamping. Sementara sesepuh di dusun Gelung, Ny Suro Kariyo, yang ditemui Merapi menyebutkan, sinar tersebut adalah wadyabolo (balatentara) dari Keraton Gunung Merapi. Tujuannya mencari jabang bayi yang sedang dikandung para ibu. Menurut Nyi Suro Kariyo ada penolak bala untuk menghadapi hal itu. Bagi wanita yang sedang hamil muda, harus memakai sabuk lawe wenang dan janur kuning.

Jika tidak, ibu hamil muda akan mengalami keguguran. Menurut nenek tersebut, hal itu karena pokal gawe (ulah) bedhomo dari Gunung Merapi. Untuk menghindari hal tersebut Kanjeng Ratu Kidul, memberikan tolakbala-nya, agar wanita yang hamil muda terhindar dari hal itu.

ADA penduduk yang menceritakan, bahwa istrinya yangg sedang hamil, bermimpi ditemui wanita ayu dan lelaki gagah yang mengajak pergi jauh. Begitu bangun istrinya ketakutan. Menurut Nyi Suro Kariyo, itu termasuk bedhomo yang merayu. Kalau bayinya yang dikandung diserahkan kepada kedua makhluk halus tersebut, maka akan dijadikan bahan ‘rujak’.

Setelah diberi sabuk lawe wenang, si wanita hamil tersebut menjadi percaya diri. Alat vital yang sebelumnya mengeluarkan lendir, bercampur darah dapat berhenti tuntas tas. Wanita hamil yang ingin buang air kecil maupun besar, harus menanggalkan sabuk lawe wenang, setelah itu dipakai lagi untuk tolakbala, sambil memohon doa restu kepada Tuhan, agar kehamilannya selamat dari jarahan roh halus.

Namun dalam kenyataannya, pagi harinya Selasa Kliwon di tempat kejadian di dusun Gari, Wonosari, ada orang meninggal secara mendadak.

Penduduk tersebut waras-wiris ketika sedang menyapu halaman, terjatuh dan meninggal. Sementara tetangga desa ada ibu hamil muda, mengalami keguguran karena belum sempat memakai sabuk lawe wenang.

Menurut Adipurwanto Ketua RT dusun Gelung, cahaya terang seperti kembang api itu berputar-putar di atas pohon kemudian menghilang. Sekitar setengah jam kemudian muncul lagi dari atas pohon, dan melesat ke arah timur, yang esuk harinya ada penduduk yang meninggal. (Tds)-k