Palembang, 1993

Informasi ini diperoleh melalui email di milis BETA-UFO, dikirim oleh Alessandro dari Palembang. Email diterima tanggal 18 September 2004.


Aku tinggal di Palembang, rumahku dulu persis di sebelah jembatan AMPERA sebelah Ulu, dulu waktu aku berumur kira-kira 11 tahun (tahun 1993), di belakang rumahku ada orang tua, yang biasa aku panggil Mang Madi, dia tinggal sendiri, sementara anak-anaknya ada di jawa semua. suatu sore dia pernah berkata padaku, "kamu mau melihat piring terbang?" Aku menjawab "IYA", nanti jam 10 malam kau kesini, di depan rumahnya, ada bale-bale tempat duduk-duduk, yang mana kalau malam kita tiduran disitu, dengan jelas kita dapat melihat langit.

Karena rasa penasaranku, malmanya aku ke rumahnya yang tepat berada di belakang rumahku, lalu kami duduk sambil bercerita tentang pengalamannya yang pernah melihat UFO, katanya bentuknya bulat seperti piring, dengan sinar di tepiannya.

Setelah hampir 1 jam kami ngobrol tiba-tiba, tatapanku tertuju pada seberkas sinar di langit yang berwarna agak kemerahan, kalau dilihat dari lokasiku duduk, tepat berada di atas puncak jembatan AMPERA, tentu saja jaraknya sangat jauh di langit, Mang Madi langsung berkata "Itu pesawatnya!" Lambat laun benda itu semakin mendekat. Tidak mengeluarkan suara, dan yang membuat aku heran saat benda itu semakin dekat, aku merasa gendang telingaku seperti tersumbat, seperti ada letupan didalam telinga. Sama halnya kalo kita naik lift pada ketinggian tertentu. Bentuknya seperti piring, ada lampu berkedip di setiap tepiannya, Warnanya benda tersebut, sekilas seperti silver/perak, lampu berwarna merah keputihan dengan sedikit kilatan-kilatan putih. Lampu tersebut tidak berasal seperti halnya bola lampu yang ada di dunia kita, tapi seperti logam yang bersinar. Cukup lama juga benda tersebut berputar, dan kemudian melesat naik dengan kecepatan luar biasa, dan mendadak telingaku normal kembali.

Besoknya aku cerita dengan teman-temanku yang lain, tetapi mereka malah mentertawakanku. Inilah setelah sekian tahun aku menceritakan kembali kisah misterius yang kualami ini.

Mang Madi sekarang sudah almarhum, tapi lokasi tempat 10 tahun yang lalu aku melihat penampakan tersebut masih ada.

Entah lah, aku sendiri nggak tahu, bagaimana Mang Madi bisa memperkirakan jam tersebut, mungkin karena tiap malam dia tidur-tiduran di bale-bale tersebut. jadi bisa memperkirakannya, dan mungkin faktor keberuntungan juga malam itu aku bisa melihatnya, karena dua malam dari hari itu, aku membawa satu temanku yang masih tak percaya dengan apa yang aku lihat ke rumah Mang Madi, dan hasilnya kami tidak melihat apa-apa, dan buntutnya aku tak pernah menceritakan lagi kisah ini karena malu diejek teman, karena dianggap mimpi.

Kisah ini pun tak pernah kuceritakan kepada orangtua, karena pulang dari melihat benda tersebut, aku dimarahi, karena keluar rumah malam hari tanpa izin. Kalau mau melihat lokasi bale-bale tersebut silahkan ke Palembang.